Gangguan Mental
Didalam psikologi dikenal perilaku-perilaku yang menyimpang dari perilaku yang normal sebagai gejala dari gangguan mental. Penyimpangan perilaku ini dapat disebabkan oleh adanya kelainan psikis pada orang-orang bersangkutan tetapi bisa juga disebabkan karenan adanya stresor (sumber stres) yang datang dari luar atau perubahan sosial yang mengubah kriteria normal menjadi tidak ormal. Cabang psikologis yang khusus mempelajari gangguan mental ini disebut Psikopatologi atau Psikologi Abnormal,sedangkan usaha memperbaiki atau menyembuhkan kelainan-kelainan dilakukan oleh Psikologi klinis.Gangguan mental bisa murni psikologis. Misalnya, depresi berat karena putus hubungan dngan pacar atau gagal memenuhi cita-citanya untuk masuk ke perguruan tinggi favorit. Disisi lain sering kali pula disebabkan oleh ganguan fisik (sakit). Mislanya pecandun narkoba bisa menjadi agresif, depresif atau paranoid (curiga), tergantung narkoba yang digunakannya.Oleh karena itu, gangguan mental, selain menjadi slah satu bidang psikologi, dipelajari juga oleh ilmu kedokteran, khusunya kedoteran jiwa atau psikiatri. Perbedaan antara psikologi klinis dan psikiatriadalah perbedaan metode pendekatan. Psikologi klinis, menanggani kasus-kasus gangguan mental dari sudut psikologi. Teori-teori yang digunakan pun adalah teori-teori ilmu psikologi yang merupakan bagian dari ilmu social. Kasus depresi mislanya dianalisis oleh psikologis klinis dengan mencoba menemukan stressor (sumber setres) dan mendiskusikan dengan klien(panggilan psikolog untuk pasien) bagaimana cara mengatasi stresor.
Psikiatri dilain pihak, memandang gangguan mental dari sudut ilmu kedokteran, yaitu dari sudut penyakit dan cara pengobatan. Dokter berusaha mencari factor penyebab dari soma (tubuh)pasien mulai dari factor keturunan, sampai kelainan atau gangguan syaraf. Untuk menjadi seorang psikiater, harus menjadi dokter dulu, sedangkan untuk menjadi psikologi klinis, sejak lulus SMA harus masuk fakultas psikologi. Dengan demikian tidak benar anggapan bahwa seorang psikolog adalah seorang dokter.Cara lain membedakan dokter jiwa (psikiater) darri psikolog (klinis) adalah bahwa dokter mengurusi orang sakit, sedangkan psikolog pada dasrnya mengurusi orang sehat. Hanya psikolog klinis yang menanggani orang dengan keluhan gangguan jiwa. Masalahnya antara yang sakit dan yang sehat pun sering kali tak jelas batasnya, apalagi dengan perubahan-perubahan normamasyarakat yang sekarang terjadi. Sebagai contoh, sekarang banyak orang (pria) yang memelihara jenggot, berbaju koko, bercelana ngantung dan bersandal. Saat ini, (tahun 2000-an), orang akan menafsirkannya sebagai salah satu model busana muslim dari aliran tertentu. Kalau busana macam ini dipakai tahun 1960-an pemakainya bisa dinggap sakit jiwa.
DSM IV (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorder)
Psikiater dan Psikolog klinis tidak bekerja sembarangan. Mereka tetap menggunakan metode ilmiah. Kalaupun ada perubahan-perubahan , bukan psikiater atau psikolognya yang bekerja tidak ilmiah melainkan ilmunya yang belum sampai kesitu, hususnya dalam pengobatan gangguan mental.Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan psikiatri dan psikologi klinis mendasarkan diri pada penelitian empiris. Berdasarkan penelitian berpuluh tahun dan melibatkan banyak pasien/klient disusunlah buku pedoman yang dijadikan rujukan oleh semua dokter spesialis jiwa dan psikolog klinis di seluruh dunia. Buku rujukan itu dikenal dengan nama DSM IV (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders) ,yang saat ini sudah masuk ke versi ke empat.Buku ini memang sering mengandung kontroversi, terutama karena buku ini dibuat karena mengandung kasus-kasus di Amerika Serikat. Oleh karena itu, dikembangkan juga versi internasionalnya saja kemudian dimasukan ke BAB tentang mental disorders. Dalam perkembangan DSM dari versi keversi, bisa terjadi perubahan, penambahan, pengurangan ataupun penggolongan ulang kategori yang ada. Berikut adalah kategori ringkasan kategori gangguan mental dalam DSM IV versi 1994.
Poros 1
Depresi
Depresi disebut juga dengan unipolar disorder, untuk membedakannya dengan bipolar disorder bergantian antara low dan hight mood, yaitu perasaan murung. Kehilangan gairah untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukannya dan tidak bisa mengeksoresikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada awal sampai pertengahan usia dewasa. Bisa terjadi sekali,bisa terjadi sering kali. Bisa sebentar, bisa selama hidup. Bisa bertahap, bisa mendadak berat. Penyebab depresi sangat bermacam-macam . faktor psikolog yang bisa menyebabkan depresi antara lain adalah adanya harapan yang tidak terpenuhi, seperti putus cinta tidak diterima di perguruan tinggi favorit, atau masalah perkawinan yang kronis. Hal lain yang menyebabkan depresi adalah keadaan fidik (misalnya harus dirawat dirumah sakit atau rasa sakit yang tidak sembuh-sembuh) atau pengaruh narkoba. Depresi karena sebab fisik atau medis tetapi harus di uji secara laboratorium agar dapat diapstikan apakah benar ini gejala depresi atau gejala faktor fisik medis saja. Jika depresi itu murni pun tidak selalu memerlukan perawatan. Depresi yang hanya sekali atau sekali-kali terjadi, apalagi yang sebentar ringan sama skali tidak perlu di rawat. Deprsi yang emerlukan penanganan psikiater atau psikologis klinis adalah yang berlangsung rslatif lama dan berat sehingga menggagu kehidupan sosial orang yang bersangkuatan termasuk mengganggu pekerjaan ,pelajaran atau pergaulan. Dalam hal ini biasanya dilakukan oleh psikiater biasa memberikat obat-obat antideoresant. Adapun inventory (BDI) yang dikemukakan oleh Beck mengandung 21 gejala dan tingkah laku yaitu : (1) sedih, (2) pesimistis, (3) rasa kegagalan , (4) ketidak puasan, (5)rasa bersalah, (6)rasa terhukum, (7)tidak suaka terhadap dirisendiri, (8) menyalahkan diri sendiri, (9) keinginan untuk bunuh diri, (10) berteriak tiba-tiba, (11) lekas marah, (12) mundur dari kehidupan social, (13) keragu-raguan, (14) citra tubuh yang keliru, (15) hambatan kerja, (16)gangguan tidur, (17) kecenderunganlelah, (18)hilang selera makan, (19) turun berat badan, (20) postur tubuh tertentu, (21)kehilangan hasrat seksual.
Gangguan Kecemasan
Orang dewasa biasanya mencampuradukan saja pengertian dari fear, phobia dan axiety. Semuanya disebut takut saja, tetapi dalam psikiatri dan psikologi. Ketiga istilah itu mempunyai arti masing-masing. Fear adalah rasa takut (keadaan emosi yang tidak menyenangkan), yang di timbulkan oleh suatu objek yang jelas dan alasannya pun jelas, atau disebut juga dengan takut rasional. Fobia adalah takut yang irasional pada satu objek atau situasi tertentu artinya objeknya memang jelas, tetapi alasannya tidak masuk akal atau tidak jelas. Fobia termasuk gangguan mental. Anxiety atau cemas, adalah takut yang tidak jelas objeknya dan tidak jelas pula alasannya. Pada orang normal sering terjadi cemas yang normal. Jenis-jenis kecemasan antara lain adalah generalizated anxiety disorder (kecemasan umum) ,panic disorder atau panik yaitu perasaan teror yang intens,gemetar, bingung ,mau muntah sesak napas, dan merasa dunia akan kiamat. Berikutnya adalah sosial anxiety disorder atau disebut juga fobia sosial, orang yang bersangkutan merasa dirinya selalu dinilai jelek oleh orang lain. Separation anxiety atau cemas menghadapi perpisahan banyak terjadi pada anak-anak . Kecemasan bisa berawalsejak masih usia kanak-kanak dan berkembang tahat demi tahap. Misalnya kecemasan yang timbul karena di masa kecil sering di kunci dikamar sendirian sementara ibunya berbelanja. Disisi lain kecemasan juga bisa terjadi setelah suatu peristiwa yang menimbulkan trauma mental.penderita kecemasan pascaperistiwa traumatis ini diberi sebutan khusus, yaitu PTSD (Posttraumatic stress disorder) dan untuk mereka para pakar psikologi telah mengembangkan berbagai teknik psikoterapi yang dasarnya adalah terapi perilaku kognitif untuk orang dewasa dan terapi bermain untuk anak-anak. Untuk penderita kecemasan selain PTSD kadang-kadang psikiater memberikan juga obat-obatan, karena ada kemungkinan dari factor neurolgis terhadap timbulnya kecemasan itu. Tetapi, dalam kenyataan sangat sedikit atau hamper tidak ada enderita kecemasan yang disebabkan murni oleh factor neurologis. Hamper semua disebabkan oleh factor psiko-sosial dan lingkungan. Jenis-jenis kecemasan antara lain adalah generalized anxiety disorder atau keemasan umum, yang terdapat pada perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Jenis ini tidak focus pada objek atau situasi tertentu, tidak spesifik atau mengambang. Orang yang bersangkutan bisa bilang bahwa dia cemas, takut, tetapi tidak bisa menebutkan mengapa dia cemas. Yang jelas, dia tidakbisa mengontrol emosi takutnya dan reaksi takut pada tubuhnya. Jenis yang lain adalah panic disorder atau panic, yaitu perasaan terror yang intens, gemetar, bingung, mau muntah, sesak napas dan merasa dunia akan kamat. Walaupun bisa muncul begitu saja, rasa panic ini biasanya timbul karena suatu peristiwa yang menakutkan, stress yang berkelanjutan, atau setelah latian olahraga. Reaksi fisik yang intens bisa terjadi selama sepuluhmenit atau kurang, tetapi dampaknya bisa berjam-jam sesudahnya. Mereka yang mendapat serangan panic sehabis olahraga mengira dirinya mendapat serangan jantung, dan dilarikan ke Unit Gawat Darurat, namun setelah diperiksa ternyata dia sehat-sehat saja. Berikutnya adalah social anxiety disorder atau disebut juga fobia social. Orang yang bersangkutan merasa bahwa dirinya selalu dinilai jelek oleh orang lain. Termasuk dalam golongan ini adalah demam panggung. Yaitu orang yang takut untuk tampil di depan umum. Separation anxiety atau cemas menghadapi perpisahan banyak terjadi pada anak-anak, yaitu ketika anak itu harus berpisah dari orang yang selama ini memberinya perasaan aman dan terlindung.
Bipolar Disorder (emosi yang berubah-ubah dari positif ke negatif dan sebaliknya)Dulu gangguan mental ini disebut dengan manis-depressif, karena gejalanya adalah pergantian terus menerus antara emosi sangat positif (manis) seperti riang gembira, euphoria, senang dan sebagainyadan emosi sangat negatif (depresif) seperti murung, sedih ,ingin menangis dan sebagainya. Sekarang gangguan ini disebut bipolar (dua-kutub), karena emosi itu bergerak bolak-balik dari satu kutub yang ekstrem (manis) ke kutub yang lainnya (deprsif). Masa perubahan antara kedua kutub ini diisi dengan emosi yang netral bisa juga perubahan begitu cepat sehingga tidak sempat diselingi emosi netral.
(Attention-Deficit Hyperactivity Disorder,Hiperaktif tetapi Kurang Konsentrasi)
Gangguan mental yang satu ini sepenuhnya disebabkan oleh gangguan dalam perkembangan syaraf. Ciri ADHD adalah :
a. Terus menerus tidak dapat memfokuskan perhatian dari satu hal. b. Hiperaktifc. Mudah lupa dan tidak dapat mengendalikan implus-implusnya. Kondisi ini jelas sangat melelahkan bagi orang disekitarnya, orang tua dan guru khususnya .Autism
Seperti halnya ADHD, autism adalah juga merupakan gangguan mental kerena kelainan neurologis ,yaitu ada gangguan di otak, dan atau sistem syarafnya. Soekadar (2007) menemukan bahwa penderita autis terdapat setidaknya tiga bagian otak yang terganggu, yakni lobus frontalis, sistem limbik dan hemisfer kanan. Berbeda dengan ADHD yang tidak berkosentrasi.Autism dipercaya sebagai akibat dari mutasi (perubahan) genetik sehingga bisa terjadi pada anak-anak termasuk kepada yang kondisi orang tuanya sehat. Penderita autism sudah dapat dilihat sejak berumur 2-3 tahun. Tanda-tanda lain selain gerakan-gerakan yang berulang-ulang adalah tidak ada kontak mata dengan orang lain ,kalau dipanggil tidak menyahut. Dampaknya adalahbahwa seseorang autis bisa tidak peduli sama sekali dengan kejadian disekitarnya sehingga ia bisa melakukan sesuatu tanpa memedulikan bahaya sama sekali. Disisi lain seorang autis bisa mempunyai bakat yang luar biasa yaitu biasa disebut autis savant.
Phobias/fobia (Rasa takut yang tidak beralasan)
Fobia berasal dari kata Yunani ,phobos yang berarti “takut”, takut dalam fobia adalah rasional, menetap dan sangat intens yang ditunjukkan kepada situasi, benda, kegiatan atau orang tertentu. Para pakar menduga bahwa fobia disebabkan oleh kombinasi antara faktor bakat, keturunan, dan pengalaman tertentu. Penyebab pobia itu adalah pengalaman traumatis ketika secara tidak sengaja meliahat sesuatu yang disimpan dalam ketidaksadarannya. Jenis pobia banyak sekali bahkan sampai mencapai ratusan. Secara umum, phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu.Bedanya sama rasa takut biasa adalah, hal yang ditakuti sebenarnya nggak menyeramkan untuk sebagain besar orang. Phobia terjadi karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis.Fobia ( phobia ) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia ( phobia )bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya.Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya. Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.
Phobia atau fobia bukan merupakan penyakit jiwa. Tapi kalau tidak disembuhkan, bisa menular ke orang lain. Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak mempunyai alasan. Bagi mereka yang menderita fobia, sesuatu yang remeh tampak sangat menakutkan. Bahkan berubah menjadi kengerian.Penyebab fobia bisa bermacam-macam. Yang jelas, berkaitan dengan pengalaman pribadi di masa lalu. Pola asuh yang salah dari orangtua juga berpengaruh. Jadi, bisa dikatakan, penyebab utama timbulnya fobia adalah rasa cemas yang berlebihan. Penderita fobia biasanya memiliki beberapa gejala psikologis. Jika ketakutannya muncul, dia langsung merasa sakit kepala, denyut nadi bertambah cepat atau berkeringat, muka menjadi merah. Bahkan kalau sudah parah, bisa muntah atau pingsan.Macam-macam fobia: Menurut sebuah penelitian, di dunia ini, kira-kira cuma sepuluh persen orang yang menderita fobia. Kita tidak perlu malu kalau ternyata kita menderita fobia. Semua orang sebenarnya memiliki fobia, namun perbedaannya, fobia itu mengganggu atau tidak, itu saja.Sampai sekarang, ada sekitar 264 jenis fobia yang telah dikenal, semuanya ada namanya. Fobia sederhana adalah bentuk yang paling umum. Ketakutan pada sesuatu yang khusus, misalnya pada pesawat terbang atau binatang.Bentuk yang paling unik adalah fobia sosial, yang disebabkan oleh keadaan psikologis dan biasanya banyak diderita oleh remaja. Penyebab utamanya, ketakutan pada perhatian orang terhadap dirinya. Penderita takut melakukan suatu tindakan, malu atau takut dirinya akan dipermalukan.Bentuk fobia ini bisa bermacam-macam. Contohnya tiba-tiba kamu jadi tidak bisa bicara dan tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya “biasa”. Misalnya kencan, makan atau minum di depan orang banyak, dan lain-lain. Orang yang menderita fobia biasanya menjadi terlena oleh ketakutannya. Rasa takut tersebut cenderung dipelihara. Rasa takut yang berlebihan, apalagi tanpa alasan yang jelas, akan merugikan dan mengganggu. Si penderita jadi tidak bisa melakukan aktivitas lain karena merasa ketakutan yang berlebihan. Kerugian lain, ketakutan itu berubah menjadi rasa benci atau anti terhadap penyebab fobia. Benci terhadap orang, benda, atau binatang tertentu.Kalau fobia tidak mengganggu kehidupan sosial, ini bukan gangguan jiwa. Kalau sudah mengganggu, sehingga tidak bisa menjalankan kegiatan sehari-hari, disebut sebagai gangguan jiwa.
Schizophrenia/Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari kata yunani yang artinya suatu diagnosis gangguan mental yang ditandai oleh kelainan dalam presepsi atau expresi dari realitas. Yang paling sering adalah halusinasi auditif (seakan-akan mendengar suara-suara atau mengajak bercakap-cakap). Delusi paranoid (curiga). Faktor penyebabnya belum jelas. Bisa dikarenakan turunan atau genetik , bisa juga karena gangguan syaraf,tetapi dalam biologi menyatakan bahwa ada beberapa kromosom yang berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia tersebut.Gangguan-gangguan psikis yang sekarang dikenal sebagai schizophrenia, untuk pertama kalinya diidentifikasi sebagai "demence precoce" atau gangguan mental dini oleh benedict muler (1809-1873), seorang dokter berkebangsaan belgia pada tahun 1860 (dalam pratiknya, 1995). konsep yang lebih jelas dan sistematis diberikan oleh emil kraepelin (1856-1926), seorang psikiatri jerman pada tahun 1893. kraepalin menyebutnya dengan istilah "dementia praecox". istilah dementia praecox berasal dari bahasa latin "dementis" dan "precocous", mengacu pada situasi dimana seseorang mengalmi kehilangan atau kerusakan kemampuan-kemampuan mentalnya sejak dini.merupakan proses penyakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu dalam tubuh meliputi hilangnya kesatuan dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku. penyakit ini muncul pada usia muda yang ditandai oleh kemampuan-kemampuan yang menurun yang akhirnya menjadi disentegrasi kepribadian yang kompleks. gambarannya meliputi pola tingkah laku seperti delusi, halusinasi, dan tingkah laku yang aneh.Uegen Bleuler (1867-1939), seorang psikiatri swiss memperkenalkan istilah schizophrenia. istilah ini berasal dari bahasa yunani schitos artinya terbelah/terpecah dan phren artinya pikiran. secara harafiah schizophrenia berarti pikiran/jiwa yang terbelah/terpecah.bleuler lebih menekankan pola perilaku yaitu tidak adanya integrasi otak yang mempegaruhi pikiran, persaan dan afeksi. dengan demikian tidak adanya kesesuaian antara pikiran dan emosi, persepsi kenyataan yang sebenarnya.Schizophrenia termasuk dalam kelompok psikosis fungsional.
Psikosis fungsional merupakan penyakit mental secara fungsional yang non organis sifatnya, hingga terjadi kepecahan yang ditandai oleh desintegrasi kepribadian dan maladjusment sosial yang berat, tidak mampu mengadakan hubungan sosial dengan dunia luar bahkan sering terputus sama sekali dengan realitas hidup lalu menjadi ketidakmampuan secara sosial. hilanglah rasa tanggung jawabnya dan terdapat gangguan pada fungsi intelektualnya. jika perilakunya tersebut menjadi begitu abnormal dan irasionalnya, sehingga dapat membahayakan dan mengancam keselamatan dan dirinya sendiri secara hukum disebut gila. schizophrenia merupakan gangguan mental dan klasifikasi berat dan kronik(psikotik) yang menjadi beban utama pelayanan kesehatan jiwa di indonesia sejak jaman pemerintahan hindia belanda sampai sekarang. mengapa menjadi beban? karena ciri produktif dan harus ditanggung hisupnya selamanya oleh sanak keluarga, masyarakat, dan negara.PENYEBAB GANGGUAN SCHIZOPHRENIATerdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab schizophrenia yaitu meliputi pendekatan biologis (meliputi faktor genetik dan faktor biokimia) pendekatan psikodinamik, pendekatan teori belajar.PENDEKATAN HOLISTIKFaktor geneticBeberapa penelitian menunjukkan pengaruh faktor genetis dalam menularkan shizophrenia, namun tetep menjadi pertayaan: bagaimana penularan genetis terjadi. beberapa peneliti mencoba dengan beberapa model (Rathus,et al., 1991), antara lain:
a. Distinct Heterogenity Modelmodel ini menyatakan bahwa shizophrenia terdiri dari sejumlah psikosis, beberapa diantaranya disebabkan oleh kerusakan gen yang dapat diikuti oleh gen-gen tertentu dan yang hanya disebabkan oleh faktor lingkungan.
b. Monogenic GenModel ini menyatakan bahwa semua bentuk schizophrenia dapat disebabkan oleh suatu gen yang cacat. gen yang cacat ini dapat menyebabkan schizophrenia pada orang yang menerima gen itu dari kedua orang tuanya.
c. Multifactorial-Polygenic Model-Model ini menekankan pengaruh nilai ambang. disebabkan pengaruh oleh berbagai gen, trauma biologis prenatal dan postnatal dan tekenan psikososial yang salaing berinteraksi.Faktor biokimia.OtakBagi orang yang normal kelainan saraf, sistem switch pada otak bekerja dengan normal.sinyal-sinyal persepsi yang datang dikirim kembali dengan sempurna tanpa adanya gangguan sehingga menghasilkan perasaan, pemikiran dan akhirnya melakukan tindakan sesuai kebutuhan saat itu. pada otak penderita schizophrenia sinyal-sinyal yang dikirim mengalami gangguan sehingga tidak berhasil mencanpai sambungan otak yang dituju.GEJALAPara psikiatri membedakan membedakan gejala serangan schizophrenia menjadi 2 yaitu gejala positif dan negative.Gejala positif Halusinasi selalu terjadi saat ransangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespon pesan atau ransangan yang datang. Penderita schizophrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu penderita merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang sura itu menyuruhnya melakukan Sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya pada penderita schizophrenia, lampu trafik dijalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap sebagai suatu isyarat dari luaar angkasa. Beberapa pendarita schizophrenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamati-mati, diintai, atau hendak diserang.Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah dimana penderita schizophrenia tidak mampu memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Karena penderita schizophrenia tidak mampu mengatur pikirannya mebuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa di tangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan mengandalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang panderita schizophrenia tertawa sendiri dengan keras tanpa memperdulikan sekelilingnya. Semua itu membuat penderita schizophrenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengarti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebainya.Gejala negativePenderita schizophrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi dan minat dalam hidup yang membuat penderita menjadi orang yang malas. Karena penderita schizophrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi penderita schizophrenia menjadi datar. Penderita schizophrenia memiliki ekspresi baik dari raut muka maupan gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa penderita schizophrenia tidak bisa merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup mereka. Mereka tidak meras memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan yang relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Disamping itu perubahan otak secara biologis juga memberi adil dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat penderita schizophrenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.Menurut bleuler diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat gangguan –gangguan primer dan disharmoni (keretakan, perpecahan atau ketidakseimbangan) pada unsure-unsur kepribadian (proses berpikir, emosi, kemauan dan psikomotorik) diperkuat dengan gejala-gejala sekunder.Kurt Schneider (1939) menyusun 11 gejala rangking pertama (“first rank symptoms”) dan berpendapat bahwa diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat satu gejala dari kelompok A dan satu gejala dari kelompok B, dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun.Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental.1. FarmakoterapiNeroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan schizophrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan schizophrenia sudah lebih dari 1 kali maka obat diberi terus selama satu sampai dua tahun.2. Terapi elektro konvulsi (TEK)Terapi konvulsi dapt memperpendek serangan schizophrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan terapi ini tidak dapat mencengah serangan yang akan datang.
3. Terapi koma insuli Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit hasilnya memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit.4. Psikoterapi dan rehabilitasPsikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengambalikan penderita ke masyarakat. Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter.5. Lobotomy prefrontalDapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak beerhasil dan bila penderita sangat menganggu lingkungannya.
c. Multifactorial-Polygenic Model-Model ini menekankan pengaruh nilai ambang. disebabkan pengaruh oleh berbagai gen, trauma biologis prenatal dan postnatal dan tekenan psikososial yang salaing berinteraksi.Faktor biokimia.OtakBagi orang yang normal kelainan saraf, sistem switch pada otak bekerja dengan normal.sinyal-sinyal persepsi yang datang dikirim kembali dengan sempurna tanpa adanya gangguan sehingga menghasilkan perasaan, pemikiran dan akhirnya melakukan tindakan sesuai kebutuhan saat itu. pada otak penderita schizophrenia sinyal-sinyal yang dikirim mengalami gangguan sehingga tidak berhasil mencanpai sambungan otak yang dituju.GEJALAPara psikiatri membedakan membedakan gejala serangan schizophrenia menjadi 2 yaitu gejala positif dan negative.Gejala positif Halusinasi selalu terjadi saat ransangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespon pesan atau ransangan yang datang. Penderita schizophrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu penderita merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang sura itu menyuruhnya melakukan Sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya pada penderita schizophrenia, lampu trafik dijalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap sebagai suatu isyarat dari luaar angkasa. Beberapa pendarita schizophrenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamati-mati, diintai, atau hendak diserang.Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah dimana penderita schizophrenia tidak mampu memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Karena penderita schizophrenia tidak mampu mengatur pikirannya mebuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa di tangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan mengandalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang panderita schizophrenia tertawa sendiri dengan keras tanpa memperdulikan sekelilingnya. Semua itu membuat penderita schizophrenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengarti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebainya.Gejala negativePenderita schizophrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi dan minat dalam hidup yang membuat penderita menjadi orang yang malas. Karena penderita schizophrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi penderita schizophrenia menjadi datar. Penderita schizophrenia memiliki ekspresi baik dari raut muka maupan gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa penderita schizophrenia tidak bisa merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup mereka. Mereka tidak meras memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan yang relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Disamping itu perubahan otak secara biologis juga memberi adil dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat penderita schizophrenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.Menurut bleuler diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat gangguan –gangguan primer dan disharmoni (keretakan, perpecahan atau ketidakseimbangan) pada unsure-unsur kepribadian (proses berpikir, emosi, kemauan dan psikomotorik) diperkuat dengan gejala-gejala sekunder.Kurt Schneider (1939) menyusun 11 gejala rangking pertama (“first rank symptoms”) dan berpendapat bahwa diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat satu gejala dari kelompok A dan satu gejala dari kelompok B, dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun.Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental.1. FarmakoterapiNeroleptika dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan schizophrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Sesudah gejala-gejala menghilang, maka dosis dipertahankan lagi, jika serangan itu baru yang pertama kali. Jika serangan schizophrenia sudah lebih dari 1 kali maka obat diberi terus selama satu sampai dua tahun.2. Terapi elektro konvulsi (TEK)Terapi konvulsi dapt memperpendek serangan schizophrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan terapi ini tidak dapat mencengah serangan yang akan datang.
3. Terapi koma insuli Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit hasilnya memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit.4. Psikoterapi dan rehabilitasPsikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengambalikan penderita ke masyarakat. Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter.5. Lobotomy prefrontalDapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak beerhasil dan bila penderita sangat menganggu lingkungannya.
Poros II
Dissociative Identity Disorder (DID)
DID, atau yang sering dikenal dengan Split personality atau multiple personality (kepribadian ganda), dulu di anggap sebagai salah satu jenis Skizofrenia karena mengandung suatu gejala dari gangguan mental itu, yaitu pola pikir yang kacau. Dalam DSM IV, DID sudah digolongkan sebagai jenis gangguan mental tersendiri.Cirinya adalah minimal dua identitas atau kepribadian yang berbeda mengendalikan perilaku orang yang bersangkutan. Kepribadian-kepribadian itu mempersepsi ,menilai dan beraksi terhadap lingkungan dengan cara sangat berbea dan ketika yang satu sedang memegang kendali ,kepribadian-kepribadian yang lain tidak tahu menahu. Dengan demikian terjadi gejala yang khas dari pasien DID yaitu tidak ingat dengan apa yang sudah dilakukannya. Gejala ini bukan karena pengaruh obat-obatan ,trauma,benturan di kepala,usia tua atau penyebab medis yang lain, melainkan karena pergantian kendali dalam jiwa penderita.
Poros III
Paranoia
Paranoia adalah gangguan jiwa yang cukup dikenal oleh orang awam disamping kepribadian ganda. Bahkan ada istilah awam untuk gangguan jiwa yang satu ini yaitu “parno” (singkatan dari paranoia) yang maksudnya adalah orang yang sering curiga. Dalam dunia psikiatri dan psikologi istilah paranoia mempunyai arti yang baku yaitu gangguan dalam proses berpikir yang ditandai dengan kecemasan atau ketakutan yang berlebihan seingga mencapai tingkat yang masuk akal dan disertai delusi (waham). Ciri Khas orang “paranoia” adalah merasa selalu ada ancaman. Paranoia adalah salah satu gangguan kepribadian yang cukup mempengaruhi efektivitas perilaku individu dalam berinteraksi dilingkungannya. Menurut JP Chaplin, Phd, paranoia adalah suatu ciri gangguan psikotic yang ditandai adanya delusi yang sistematis atau waham dengan sedikit deterioasi. Hal ini cenderung menetap dan cukup kuat pengaruhnya serta membuat individu pada kondisi incapacity.Disamping itu dikenal istilah lain, yaitu paranoic atau paranoiac, yang berarti individu yang menderita paranoia atau paranoid schizophrenia. Beberapa istilah lain yang terkait adalah sebagai berikut :Paranoid :1. Berhubungan atau sama dengan paranoia.2. Individu yang memiliki ciri perilaku atau sikap seperti orang paranoia, atau orang yang merasa terancam oleh orang lain.Paranoid personality :Suatu kepribadian yang ditandai adanya sikap penuh curiga, sangat sensitif tanpa adanya deteriorasi atau delusi.Paranoid schizophrenia :Salah satu jenis dari schizophrenia yang ditandai oleh gejala delusi atau sikap sangat curiga. Hal ini disebabkan adanya gangguan difungsi berpikir, halusinasi dan deteriorasi.Seorang ahli psikologi lain James C. Coleman, menyebutkan beberapa pengertian berkaitan dengan ini sebagai berikut :Paranoia :Suatu ciri psikosis yang ditandai adanya delusi yang sistematis.Paranoid Personality :Individu yang menunjukan gejala perilaku proyeksi seperti defence mencahnism, curiga, iri, sangat cemburu dan keras kepala.Paranoid Schizophrenia :Salah satu jenis dari schizophrenia yang ditandai adanya delusi dan halusinasi yang biasanya cukup kuat.Istilah paranoia sendiri telah digunakan dalam waktu yang cukup lama. Pada jaman Yunani kuno dan Romawi istilah ini digunakan untuk mengacu pada suatu gangguan yang tidak dapat dibedakan dengan berbagai gangguan mental lainnya. Saat ini penggunaan istilah ini lebih terbatas sejak Kraeplin menunjukan suatu kasus dimana adanya delusi dan kontak yang minim dengan realitas namun tidak terjadi disorganisasi personality yang kuat seperti yang terjadi pada kasus schizophrenia.
Tahapan berpikir yang mendorong terjadinya paranoia :
1. Suspiciousness/Curiga - individu menjadi tidak percaya kepada orang lain, takut akan dirugikan dan menjadi sangat siaga.
2. Protective Thinking – mengkaji secara selektif tindakan orang lain dan melihatnya secara curiga dan mulai menyalahkan orang lain atas kegagalannya.
3. Hostility/permusuhan – sangat sensitif terhadap ketidakadilan yang dirasakan meskipun tidak benar, hal ini direspon secara marah dan sikap permusuhan dan ini semakin meningkatkan kecurigaan.
4. Paranoid Illumination / Berkembangnya Paranoid – Sikap penuh curiga sudah menjadi bagian dirinya dan ia merasakan adanya sesuatu yang aneh namun ia ia telah tenggelam dalam situasi kecurigaan tersebut.5. Delusions – merasa dikejar-kejar atau adanya waham kebesaran namun ia mengembangkan suatu alasan yang logis dan mengembangkan tindakan-tindakan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Faktor Penyebab Paranoia:
1. Kegagalan proses belajar.
2. Kegagalan & inferiority
3. Elaborasi sistem pertahan diri & Pseudocommunity.
Kegagalan proses belajar – biasanya sejak masa kanak-kanak, paranoia suka menyendiri, pencuriga, mengasingkan diri, keras kepala dan sangat sensitif. Saat diingatkan mereka cemberut dan uring-uringan. Hanya sedikit dari mereka yang menunjukan kemampuan bermain dengan anak lain yang normal atau bersosialisasi dengan baik.Latarbelakang keluarga memegang peranan yang penting. Situasi lemahnya penerimaan dalam keluarga dan penggiringan sikap inferioritas akan mengembangkan sikap anak untuk berusaha menjadi superior. Ketidakmantapan latarbelakang keluarga mempengaruhi perasaan anak terhadap orang lain dan membentuk perilaku negaif anak terhadap orang lain.Proses sosialisasi yang tidak tepat membentuk perilaku anak yang mudah curiga kepada orang lain. Dengan demikian akan terbentuk sikap permusuhan dan ingin mendominasi orang lain. Kondisi ini akan saling mempengaruhi, sikap bermusuhannya direspon secara negatif oleh lingkungan dan iapun semakin curiga dengan orang lain sehingga perlahan-perlahan terbentuk kepribadian yang paranoia. Selanjutnya terjadilah isolasi sosial dan ia semakin tidak percaya kepada orang lain.Perkembangan kepribadian selanjutnya dimasa kanak-kanak ini mengembangkan suatu sikap gabungan dari merasa diri penting, kaku, arogan, ingin mendominasi dan membentuk gambaran diri yang tidak realistis dan menimpakan kegagalan atau kesialannya kepada orang lain. Mereka menjadi sangat curiga dan sangat peka menghadapi situasi ketidakadilan. Selanjut individu tidak memiliki selera humor.Mereka mulai mengkategorikan mana orang baik dan jahat. Harapan mereka dan tujuan hidup mereka seringkali tidak realistik. Mereka menolak untuk menerima permasalahan yang dengan cara-cara yang lebih realistik. Mereka cenderung menjadi orang yang uring-uringan dan menolak kontak yang normal. Mereka tidak mampu membina hubungan sosial yang hangat, bersikap agresif dan merasa superior.Kegagalan dan Inferiority: Biasanya riwayat para paranoiac sarat dengan kegagalan dalam beradaptasi dengan situasi kehidupan yang penting seperti lingkungan sosial, pekerjaan dan perkawinan. Menghadapi ini mereka bersikap rigid, membuat goal yang tidak realistik dan tidak mampu membina hubungan jangka panjang dengan orang lain. Kegagalan ini diinterpretasikan olehnya sebagai penolakan, penghinaan dan peremehan oleh orang lain. Kegagalan ini menyebabkannya sukar untuk memahami sebab-sebab utama sebenarnya dari permasalahan yang ia alami. Misalnya, mengapa mereka harus meningkatkan kemampuannya dalam berhubungan sosial dalam rangka mencegah reaksi negatif dari orang lain – mengapa mereka sampai tidak disukai dalam pekerjaan misalnya karena mereka menyelidiki sesuatu secara sangat rinci. Ia tidak mampu untuk memahami dirinya dan situasi secara objektif, tidak mampu memahami mengapai ia sampai menarik diri dan mengapa orang lain menolaknya.Meskipun demikian perasaan inferiority dari penderita paranoia bersifat topeng saja, karena sesungguhnya mereka ingin superior dan menganggap dirinya penting dan hal ini dimanifestasikan dalam banyak aspek dari perilakunya. Mereka sangat ingin dihargai, hipersensitif terhadap kritik, sangat teliti dan rajin.Para individu paranoid pada saat dihadapkan dengan kegagalan mereka biasanya mengatakan “orang-orang tidak menyukai kamu,” barangkali ada sesuatu yang salah pada diri kamu,” kamu inferior.” Mereka sering bersikap defensif, menjadi sangat kaku dan cenderung menyalahkan orang lain. Pola-pola defensif ini akan membantu melindungi dirinya dari perasaan inferiority dan perasaan tidak berharga.Selanjutnya dikenal pula istilah elaborasi mekanisme pertahanan diri dan “Pseudocommunity.” Dimana diri merasa kaku, merasa diri penting, tidak humoris dan pencuriga membuat penderita tidak populer dilingkungan sosialnya. Mereka saring salah menangkap maksud orang lain. Sensitif terhadap ketidakadilan.Reaksi paranoid biasanya berkembang secara bertahap. Kegagalan yang ia alami membuat ia mengelaborasi defence mechanism. Untuk menghindari agar dinilai tidak mampu mereka mengembangkan alasan logis dibalik kegagalannya.Secara bertahap gambaran dimulai dengan kristalisasi proses yang lazim disebut paranoid illumination.
Kemudian hal tersebut berkembang sedemikian rupa sehingga penyebab-penyebabnya semakin kabur. Penderita mulai melindungi dirinya dan memiliki asumsi bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya (ditahap awal). Selanjutkan kegagalan tersebut ia timpakan kepada orang lain.Kemudian terjadi proses apa yang disebut dengan pseudo community dimana penderita mulai mengkategorisasikan orang-orang disekitarnya (faktual atau bayangan) yang menentang atau tudak menyukai dirinya.Kejadian-kejadian menjadi perhatian penderita. Ia selalui menyikapi hal-hal disekitarnya dengan sikap curiga. Pseudo community ini bisa disebabkan karena stress yang kuat, misalnya akibat kegagalan ditempat kerja. Ia akan menimpakan kesalahan tersebut kepada orang lain dan mulai mengidentifikasikan orang-orang yang dianggap menghambatnya atau menentang dirinya.
Upaya penanganan:
Pada tahap awal paranoia, penanganan secara kelompok maupun individual masih efektif, terutama apabila penderita memiliki kesadaran untuk mencari bantuan profesional.Tehnik terapi tingkah laku menunjukkan hal-hal menjanjikan seperti, ide paranoid muncul karena berbagai kombinasi hal-hal yang tidak menyenangkan, berbagai faktor perubah dalam situasi kehidupan seseorang semakin memperkuat perilaku maladaptifnya dan berkembang menjadi cara yang ampuh untuk mengatasi permasalahannya.Sekali sistem delusi menetap, penanganan akan menjadi sangat sukar. Biasanya sulit berkomunikasi dengan paranoiac untuk mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang rasional. Dalam situasi seperti ini penderita enggan berkonsultasi, tetapi mereka berusaha mencari pembenaran dan pengertian dari orang lain terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Hal yang tidak menguntungkan adalah kurang begitu bermanfaatnya merumahsakitkan paranoiac. Kepada paranoiac biasanya lebih efektif memberikan hukuman daripada penanganan. Mereka cenderung menunjukkan kesuperiorannya kepada pasien lain apabila di rumah sakit dan mengeluh apabila keluarga dan petugas kesehatan menempatkan mereka di rumah sakit tanpa alasan yang valid, sehingga mereka menolak bekerjasama dan berpartisipasi dalam kegiatan treatment. Dengan demikian kegagalannya untuk mengendalikan tindakan dan pikirannya dan sulitnya bekerjasama membuat mereka tinggal dalam waktu lama di rumah sakit. Hal ini membuat mereka susah untuk recovery. Meskipun demikian secara tradisional prognosa tentang paranoia kurang begitu bermanfaat.Pada saat awal mengidentifikasikan psikosis dengan schizophrenia dan paranoia, telah disepakati bahwa manifestasi klinis dari kasus ini harus dibedakan dengan gangguan neurosis atau psikosomatik. Ciri schizophrenia jelas adanya kegagalan pemahaman/kontak dengan realitas dan terjadi disorganisasi kepribadian seperti gangguan dalam fungsi berpikir, afek/perasaan maupun masalah perilaku.Identifikasi sebagian besar jenis schizophrenia seperti acute, paranoid, katatonik, hebephrenic dan simple memperlihatkan perbedaan klinis untuk setiap jenis. Berbagai faktor penyebab masih sulit dipahami mengapa hal tersebut dapat berkembang. Meskipun demikian para ahli melihat adanya peran faktor genetik yang signifikan yang menyebabkan schizophrenia. Mungkin karena neuropshysiological atau perubahan biochemical yang mengganggu otak berfungsi normal, termasuk disini adalah kegagalan dalam menyeleksi mekanismenya. Penyebab yang tepat dari perubahan tersebut harus dapat dipastikan untuk menentukan apakah karena faktor genetik atau karena gangguan mental.
Psikopat
Psikopat yaitu istilah yang digunakan orang-orang yang secara kronik (terus menerus) menunjukkan prilaku immoral dan anti social. Oleh karena itu, kadang-kadang digunakan juga istilah “sosiopat”. Biasanya psikopat tahubahwa prilkunya memalukan atau merusak atau merugikan orang lain, tetapi ia tidak peduli atau tidak dapt menahan diri untuk tidak melakukannya. Menurut para psikolog dan psikiater, ketidak peduliannya itu disebabkan karena pada dasrnya para psikopat memang mengalami kelainan kpribadian. Prilaku psikopat biasanya menyangkut prilakuagresif, criminal, atau seksual (misalnya berkali-kali membunuh atau memperkosa orang), tetapi ada juga yang hanya terkait dengan prilaku social. Misalnya, bolak-balik meminjam uang tetangga atau teman tetapi tidak pernah dikembalikan sehingga keluarganya berkali-kali harus mengumpulkan dana untuk mengembalikan utang itu, sementara yang bersangkutan terus saja berutang lagi tanpa merasa bersalah. Dalam terminology psikoanalisi Freud, psikopat adalah orang yang egonya terlalu dikuasai id dansuper-ego tidak ada wibawa/pengaruhnya sama sekali terhadap ego. Jadi Ego hanya mendengar kata id.
Masa depan psikopat pada umumnya tidak bagus. Mungkin pada awalnya dia akan berhasil mempengaruhi beberapa orang yang mau jadi pengikutnya, karena berlainan dengan pendapat awam (bahwa psikopat selalu ganas dan menyakitkan), psikopat bisa tampil sangat menawan. Dia pandai berbicara sehingga cepat dapat memperoleh kepercayaan dari orang lain (korban-korban psikopat biasanya tertipu oleh penampilan yang menawan ini), tetapi karena perbuatan immoral dan anto sosialnya terus menerus dilakukan, maka makin lama psikopat akan makin terisolasi dengan lingkunagnnya, diberhentikan dari pekerjaannya dan sebagainya sehingga akhirnya, ia jatuh dalam kesendirian dan kemiskinan. Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflaseyang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Narkoba
Istilah narkoba bukanlah istilah kedokteran atau psikologi. Istilah itu, walaupun sering digunakan institusi resmi (termasuk pemerintah) bahkan digunakan dalam undang-undang, hanya merupakan singkatan dari kata-kata “narkotik” dan “obat-obatan berbahaya”. Dalam ilmu kedokteran narkotika dan obat-obat berbahaya justru sering digunakan untuk tujuan pengobatan. Karena itu, yang berbahya bukan narkoba itu sendiri, melainkan penyalah gunaan narkoba untuk tujuan-tujuan lain diluar tujuan kedokteran. Istilah narkotika berasal dari kata yunani “narcosis” yang dikemukakan oleh bapak ilmu kedokteran Hiprokartes, untuk zat-zat yang menimbulkan mati rasa atau lumpuh.Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan . Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem syaraf pusat, seperti ,alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol. Di Indonesia walaupun ada Undang- Undang anti alkhohol,pengawaan praktik tidak terlalu ketat sebab dampak sosialnya tidak segawat narkoba.
Gangguan Seksual
Gangguan seksual ada dua macam. Pertama adalah gangguan fungsi seksual (sexual disfunnction) dan kedua adalah kelainan seksual (sexual deviance).Gangguan fungsi seksual adalah gangguan yang terjadi dalam tahap tertentu dari siklus seksual seseorang. Misalnya timbul rasa ragu, takut, sakit atau takut sakit atau merasa mual atau merasa jijik sehingga orang tersebut tidak dapat melaksanakan fungsi seksual tertentu dengan sempurna. Kelainan seksual (sexual disorder) atau disebut juga paraphilia adalah jika cara atau objek dalam perilaku seksual seseorang tidak lazim secara alamiah dan social. Termasuk dalam kelainan seksula adalah menyukai anak-anak dibawah umur, perlu menyakiti pasangannya sebelum berhubungan seks, disakiti dulu sebelum berhubungan seks, kepuasaan seks melalui mengintip, kepuasan seks melalui pakaian dalam atau aksesoris perempuan, mempertontonkan alat kelamin didepan umum, dan lain-lain.
Psikoterapi
Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa berabad-abad yang lalu orientasi mistik, upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul) - Philipe Pinel Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach), mendirikan asylum - Anton Mesmer Mempergunakan teknik hypnosis & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot - Paul Dubois Merumuskan & menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest” - Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud - menggunakan teknik hypnosis & teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria - Pada Breuer, talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis - Pada Sigmund Freud, talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar (cikal bakal lahirnya psikoanalisis) Psikoterapi adalah upaya intevensi oleh psikotepis terlatih agar kliennya bisa mengatasi persoalaannya. Berdasarkan teori dan tekhnik yang diterapkan ada beberapa jenis psikoterapi : psikonalisi yaitu dengan cara menjelajahi ketidaksadarn pasiennya melalui wawancara yang dinamakan assosiasi bebas.Hypnoterapi yaitu untuk menurunkan ambang kesadarn dan mensusgesti pasien untuk sembuh. Terapi kelompok yaitu dalam tehnik ini, psikoterapis mengajak beberapa orang dalam terapi. Terapi bermain yaitu tehnik ini digunakan pada anak-anak. Tujuannya adalah agar sambil bermain, anak bisa memproyeksikan perasaan-perasaannya terhadap linkungannya. Psikodrama yaitu sejumlah pasien atau pesien bersama keluarganya, bermain peran seakan-akan mereka mempunyai masalah yang harus diselesaikan bersama. Terapi humanistic beranggapan bahwa semua orang mempunyai aspek positif dalam dirinya.
Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.
Psikoterapi modern sangat berbeda dengan versi Hollywood. Biasanya, kebanyakan orang melihat terapis mereka sekali seminggu selama 50 menit. Untuk obat-janji saja, sesi akan bersama seorang perawat kejiwaan atau psikiater dan cenderung terakhir hanya 15 sampai 20 menit. Janji ini pengobatan cenderung dijadwalkan sekali per-bulan atau sekali setiap enam minggu.
Kebanyakan psikoterapi cenderung berfokus pada pemecahan masalah dan berorientasi pada tujuan. Itu berarti pada awal perawatan, Anda dan terapis Anda memutuskan perubahan spesifik yang Anda ingin lakukan dalam kehidupan Anda. Tujuan ini akan sering dipecah ke dalam tujuan dicapai lebih kecil dan dimasukkan ke dalam rencana pengobatan formal. Sebagian psikoterapis hari bekerja dan fokus pada membantu Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini dilakukan hanya melalui berbicara dan membahas teknik yang dapat menyarankan terapis yang dapat membantu Anda lebih menavigasi daerah-daerah yang sulit dalam kehidupan Anda. Seringkali psikoterapi akan membantu mengajar orang tentang gangguan mereka juga, dan menyarankan mekanisme bertahan tambahan bahwa orang tersebut dapat menemukan lebih efektif.Kebanyakan psikoterapi hari ini adalah jangka pendek dan berlangsung kurang dari setahun. Kebanyakan gangguan mental yang umum sering dapat diatasi dalam waktu tersebut, sering dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan .
Psikoterapi yang paling berhasil ketika individu memasuki terapi sendiri dan memiliki keinginan kuat untuk berubah. Jika Anda tidak ingin mengubah, perubahan akan lambat datang. Ubah berarti mengubah aspek-aspek kehidupan Anda yang tidak bekerja untuk Anda lagi, atau berkontribusi masalah atau isu yang sedang berlangsung. Hal ini juga yang terbaik untuk menjaga pikiran yang terbuka sedangkan di psikoterapi, dan bersedia untuk mencoba hal baru yang biasanya Anda tidak dapat melakukannya. Psikoterapi sering sekitar menantang seseorang ada serangkaian keyakinan dan sering, seseorang sangat diri. Hal ini paling berhasil apabila seseorang mampu dan mau untuk mencoba melakukan hal ini dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

